Guru yang Dianiaya Murid di Sampang Meninggal Dunia

 Meninggalnya seorang guru di Sampang, Madura menghentak publik di bulan Februari 2018 yang lalu. Kronologi meninggalnya yang membuat publik prihatin. Guru honorer mata pelajaran kesenian yang masih muda itu, meninggal setelah dianiaya oleh murid.  Dua persoalan yang perlu digaris bawahi adalah pertama, pelaku penganiayaan adalah muridnya sendiri. Kedua, sang murid menganiaya karena tidak terima ditegur dan dicoret pipinya saat mengganggu proses belajar. Secara umum fakta itu disimpulkan adanya krisis moral murid, dan hilangnya wibawa guru. Kasus kekerasan di sekolah seperti yang terjadi di Sampang itu hanya salah satu kisah untuk direnungkan di Hari Pendidikan Nasional tahun ini.

Agresifitas dalam dunia remaja sudah menjadi kajian sejak jaman dahulu. Kalangan psikologi mengatakan bahwa itu karena faktor kejiwaan pancaroba, sementara kalangan biologi mengatakan itu karena faktor hormonal. Kalangan pendidikan mengatakan itu karena salah pengasuhan, dan kurangnya pendidikan budi pekerti. Begitu seterusnya berbagai analisis dikemukakan.

Walau kadang nampak dibawa ke ranah yang masih sumir untuk dijadikan kambing hitam, yakni itu karena anak “jaman now” kebanyakan makan “micin” dan kecanduan gadget.  Padahal, anak nakal dan bandel. Trouble maker di sekolah itu sudah ada sejak jaman dahulu dimana tehnologi tidak secanggih sekarang. Bukan rahasia juga jika dulu ada murid yang menantang gurunya berkelahi. Saat itu, biasanya karena hal-hal yang prinsip atau saat si murid dibawah kesadaran. Namun yang menjadi catatan adalah kenapa hal itu terjadi berulang kali dari masa ke masa?

Perspektif Komunikasi dalam Kasus Kekerasan
Sebuah komunikasi, mengisyaratkan sebuah pesan dan hubungan. Pesan disini diartikan sebagai sesuatu yang disampaikan dan sesuatu yang diterima oleh dua orang atau lebih yang sedang berkomunikasi. Sedangkan hubungan adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh dua orang atau lebih atas keberadaan satu sama lainnya. Kesalahan dalam memaknai pesan dan hubungan itu, bisa menimbulkan ketegangan diantara pelaku komunikasi. Sebuah pesan kemarahan yang diekpresikan sedemikian rupa, akan dimaknai berbeda pada tingkat hubungan yang berbeda.

Seseorang mungkin akan sangat tersinggung ketika ada yang mengelus kepalanya, apalagi jika mereka berdua tidak saling kenal. Andaipun kenal biasa (tidak akrab) mungkin juga akan membuat tersinggung. Namun, ketika sesorang yang mengelus kepala itu adalah sahabat atau orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat, maka bisa jadi yang dirasakan bukan ketersinggungan, melainkan rasa yang membahagiakan sebab merasa disayangi. 
Ketika mengeskpresikan kemarahan juga begitu. Kepada orang yang kita sayangi, eskpresi kemarahan bisa sangat berbeda jika kita ekpresikan pada orang yang tidak akrab dengan kita. Kadang, seseorang marah pada orang yang disayangi karena menginginkan kebaikan bagi yang dimarahi. Disisi lain kita juga sering marah pada orang yang kita tidak sukai karena memang ingin membuatnya tersakiti atau menderita. Kita sering rewel pada hal-hal kecil ke sahabat untuk menunjukkan perhatian, namun kita bisa juga rewel pada hal-hal kecil ke musuh kita sebagai bentuk ketidak puasan. Begitupula dengan respon atas pesan yang diterima. Seseorang bisa merespon secara berbeda pada pesan yang sama, berdasakan hubungan diantara keduanya.  Seseorang akan merasakan disayangi dan diperhatikan ketika seorang sahabat sering mengritik hal-hal kecil tentang dirinya. Misal soal baju yang dikenakan, selera makannya, dsb.  Namun sebaliknya terhadap kritik hal-hal kecil yang dilakukan “musuh”, seseorang akan merasakan sebagai bentuk iri dengki. Goresan kecil cat lukis dipipi saat menegur seseorang, bisa jadi karena teguran sayang. Namun, karena yang ditegur merasa tidak dekat maka bisa saja dirasakan sebagai penghinaan di muka umum.

Ketegangan, tidak saja soal kegagalan dalam memaknai pesan dan hubungan, namun juga kegagalan dalam memaknai kontek situasi dimana komunikasi sedang dilangsungkan. Mungkin saja goresan kecil cat lukis dipipi saat menegur seseorang dimaknai sebagai penghinaan di muka umum jika yang menggoreskan adalah seseorang yang dianggap “bukan teman” atau orang yang tidak dikenal saat bertemu di jalanan. Namun, saat terjadi di sekolah dan dilakukan oleh guru yang sedang mengajar, dekat ataukah tidak dekat hubungan diantara keduanya, maka konteksnya tentu bukan itu sahabat ataukah itu musuh. Konteksnya bukan soal mempermalukan atau gurauan. Konteksnya adalah proses belajar mengajar.

Sekolah Menciptakan Konteks Komunikasi Beragam

Lembaga sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat terjadinya proses belajar mengajar sehingga orang-orang yang didalamnya menjadi lebih maju dan berilmu. Lebih dari itu, lembaga sekolah merupakan tempat dimana generasi juga dipersiapkan untuk terlibat dalam sistem pembangunan sebuah negara dan bangsa nantinya. Oleh karenanya selain pelajaran berhitung, membaca, agama, kesenian, dan olah raga, pendidikan nasional telah perlu menambahkan pentingnya social soft skill.
Saya kira, kesadaran akan konteks komunikasi juga perlu ditambahkan sebagai salah satu dari social soft skill. Interaksi antara guru dan murid, melibatkan konteks komunikasi beragam. Saat di kelas, konteksnya adalah pengajar dan siswa yang belajar. Saat di halaman sekolah, guru dan murid berteman. Saat dikantor menunjukkan semacam hubungan antara orang tua dan anak. Interaksi guru dan murid juga bisa dilihat dalam konteks komunikasi antar budaya dari sisi usia. Terjadinya gap usia yang rentangannya jauh juga bisa menimbulkan gap budaya, sehingga komunikasi juga harus disesuaikan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Majulah Pendidikan Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.